Kamis, 30 September 2010
Ketika Dia Bicara . . .
RPS Rider,
we meet again,,
n_n
oke,postingan kali ini akan mengekspos tentang ekspresi dari seorang Dewi Pramesti tentang "CINTA"...
n_n
So,,
Check It Out . .
Seuntai Cinta Yang Tak Pernah Sirna
Mataku terasa berat, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tak terasa malam semakin larut. Sesaat ketika aku tersadar dari lamunan panjangku, ternyata aku memikirkan sesuatu hal dalam hidupku yang selama ini tak membuatku bahagia. Seseorang yang menyayangiku, tapi akhirnya dia menghancurkanku. Orang yang hanya sesaat memberiku kebahagiaan, dan itu hanya bagian dari masa laluku, hanya sebuah kenangan pahit yang ingin aku lupakan. Aku mencoba menenangkan diri untuk bisa melupakan semuanya. Saat aku telah berpisah dengannya, sosok seorang laki-laki selalu menemaniku. Memberiku semngat dalam hidup ini, membuatku kembali tersenyum. Aku gak tahu kenapa, dia yang selalu ada menemaniku saat aku sedih, dan cuma dia yang selalu ada untukku. Dia,, Reza Putra Setiawan. Hari demi haripun membuat aku semakin dekat dengannya.
Saatku ingin melanjutkan lamunan indahku, namun mata ini sudah terpejam dan diselimuti dinginnya malam.
Pagi harinya,,,,
“hHuUuAaAaMm . . . “
Rasanya aku belum mau bangun dari tempat tidur ini, tapi hari ini, aku dan teman-temanku akan pergi ke pantai untuk melepas penat. Aku langsung bergegas siap-siap. Setelah semuanya selesai, aku menuju meja makan dan menyantap sarapanku. Sesampainya disana, aku menikmati desiran angin laut yang begitu sejuk dan matakupun tertuju pada deburan ombak yang sekian lama tak pernah ku rasakan lagi.
Aku duduk di tepi pantai dan menanti kehadirannya. Hari ini, dia akan menyusulku ke pantai. Aku gak tahu, kenapa dia sampai mau menyusulku ke pantai sendirian, padahal aku hanya temannya. Temannya yang akhir-akhir ini banyak bercerita dengannya. Aku terus menunggu dirinya. Setelah lama ku menunggunya, akhirnya aku bertemu dengannya. Dan ternyata diapun sudah menungguku di pantai yang jauh dari tempatku. Dia memutuskan untuk menungguku disana, karena dia sudah berjalan mencariku, tapi dia gak tahu aku di pantai yang mana.
“ Maaf yach,, jadi lama nunggu aku.” Ucapku.
“ Iya,, gak apa-apa koq. Maaf juga yach aku jadi nunggu disini aja.” Jawabnya.
Kamipun berjalan di tepi pantai dan menikmati indahnya pantai. Aku bahagia bisa merasakan sejuknya angin laut dan melihat deburan ombak bersamanya. Ada apa dengan diriku?? Apa aku menyukainya???
Dalam kebimbanganku, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu padaku yang membuatku terkejut.
“ Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Katanya.
“ Mau ngomong apa?” jawabku.
“ Aku Sayang Kamu.” Ucapnya.
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, tapi aku senang dengan apa yang dia rasakan. Dia membalas senyumanku dan . .
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” lanjutnya.
“ Mm,, gimana ya . . . “ Jawabku ragu.
“ Maaf yach, kayaknya aku gak bisa,“ lanjutku.
Sesaat kamipun terdiam, keheningan menyelimuti kami. Dia hanya diam dan seakan gak peduli padaku. Aku gak tahu, aku bingung, bagaimana aku harus melanjutkan jawabanku tadi, aku tahu dia pasti sedih dan kecewa mendengar jawabanku. Aku memberanikan diri melanjutkan jawabanku.
“ Kamu kenapa??” tanyaku.
“ Gak kenapa-kenapa koq.” Jawabnya dengan senyum yang sedikit memaksa.
“ Maaf yach, kayaknya aku gag bisa nolak kamu dech.” Lanjutku.
“ Maksud kamu??” tanyanya memastikan.
“ Iya, aku mau jadi pacar kamu.” Jawabku.
“ Maaf yach, tadi aku . . . “ lanjutku.
“ SsSsSsHhHhh . . udalah, gak apa-apa, aku ngerti koq, sekarang, kamu bener nerima aku? Kamu yakin?” tanyanya memotong pembicaraanku.
“ Iyach,, aku yakin koq, aku terima kamu.” Jawabku.
“ Makasii yach, aku bahagia banget dengernya, aku sayang kamu.” Lanjutnya.
“ Aku juga sayang kamu,,makasii yach.” Jawabku.
Aku dan dia sama-sama melontarkan senyum kebahagiaan. Saat kami terbuai dalam kebahagiaan dan didukung indahnya pemandangan pantai, kami gak sadar kalo ternyata hari mulai senja.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, aku bilang pada temen-temenku kalo aku gak bisa pulang dengan mereka.
Dalam perjalanan pulang, aku merasakan indahnya malam bersama dirinya. Dan tiba-tiba hujanpun turun dengan derasnya menambah dinginnya malam. Tapi aku dan dia belum sampai di rumah, kami memutuskan untuk berhenti dan neduh di deket sebuah toko. Sambil menunggu hujan reda, aku membuat janji dengannya. Janji pertama aku dengannya untuk saling percaya selamanya.
Hari-hariku jadi lebih indah dan bermakna dengan kehadirannya. Aku merasakan perbedaan hidupku yang dulu dan yang sekarang. Sekarang, aku merasa berarti, karena aku tahu, selain keluargaku yang begitu menyayangiku, aku juga punya dia yang sangat mencintaiku.
Hari demi hari ku lalui dengannya, banyak canda tawa juga air mata mengiringi hubungan ini. Tak terasa hubungan kami sudah menginjak satu tahun. Banyak kebahagiaan yang ku dapat darinya, terutama saat ulang tahunku. Dia megajakku ke suatu tempat yang sangat indah, dan disana dia memberiku banyak kejutan. Salah satunya, dia memberiku kue kecil yang mungil namun sangat bermakna untukku. Dia letakkan lilin diatasnya, dan menyanyikan sebuah lagu untukku. Betapa bahagianya aku.
Sudah satu tahun aku menjalin cinta dengannya, saat itu, aku pergi ke pantai lagi dengannya. Mengingat waktu pertama kali dia menyatakan cinta padaku. Dia mengajakku duduk di tepi pantai dan membicarakan semua tentang hubungan kami. Mulai dari canda tawa, kesal, benci bahkan sampai ada air mata. Semuanya telah aku lewati bersamanya setahun ini. Di temani sejuknya angin laut dan deburan ombak, tak terasa ternyata matahari mulai terbenam, langitpun terlihat mendung, tapi pemandangan pantai semakin indah dan mempesona.
Semenjak kehadirannya dalam hidupku, aku merasakan kebahagiaan yang lebih, dalam hidup ini.
“ terangnya siang tak mampu mengalahkan terangnya dirimu dihatiku.. gelapnya malam tak mampu menyaingi pekatnya rasa sayangku padamu . . . “
Kalimat ini selalu ada dibenakku, kalimat yang pernah dia ucapkan untukku. Seakan aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.
Karena apa yang telah ia lakukan padaku selama ini. Hingga sampai akhirnya, dalam suatu hubungan, pasti akan ada kerikil-kerikil yang menghalangi. Begitupun hubunganku dengannya. Gak tahu karna apa, apa yang terjadi sebenarnya, hingga suatu hari aku memutuskan untuk pindah ke Bandung. Aku pindah begitu saja tanpa memberitahunya, tanpa sepatah kata untuknya. Karena begitu kesal padanya, aku gak pernah kasih kabar padanya.
Aku sendiri bingung kenapa aku sampai marah begini dengannya, padahal sebelumnya jika ada kerikil-kerikil yang menghalangi hubungan kami, bisa kami atasi semuanya. Sebenernya, disinipun aku selalu memikirkannya.
Sampai suatu hari, tiba-tiba dia bisa menemuiku. Ternyata selama ini dia mencariku. Dia memaksaku untuk membicarakan semuanya, tapi aku gak mau, aku capek. Tapi dia terus menjelaskan semuanya. Sampai dia cerita padaku, perjuangannya selama ini mencariku. Bersusah payah mencariku karena aku gak ada kabar sama sekali.
“ Aku selalu berusaha cari kamu, tanya kesana kesini, ke temen-temen kamu, tapi gak ada satupun yang tahu kamu dimana.” Jelasnya.
“ Aku gak mau nyerah, karena aku gak mau kehilangan kamu.” Lanjutnya.
“ Aku juga sering ke rumah kamu, terus berusaha nanya sama keluarga kamu, dimana kamu, aku memohon, tapi akhirnya ibu kamu memberitahuku.” Ucapnya sambil menitikan air mata.
“ Aku langsung bergegas ke sini, nemuin kamu, buat ajak kamu pulang dan untuk kasih tahu kamu satu hal kalo, aku sayang banget sama kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu, kamu masih mau kan jadi bidadariku??? Kenapa kamu tiba-tiba pergi ninggalin aku dan gak kasih kabar ke aku? “ lanjutnya dengan suara yang serak karena menangis.
“ Ak . . Ak . . Akuu . . . “ ucapku ragu.
“ Maafin aku yach, mugkin karena kejadian yang waktu itu yang membuat kamu begitu marah padaku. Tapi kamu harus tahu kalo itu semua cuma salah paham sayang.” Jelasnya padaku.
Penjelasannya, pengorbanannya membuatku tak kuasa menahan air mata ini, akupun menangis. Aku bisa merasakan kalo dia memang begitu menyayangiku. Sebelum dia kesini, sebenernya aku sudah tahu kalo yang terjadi selama ini, yang membuatku marah padanya, memang bukan salahnya. Aku sedih, aku gak tahu kenapa perasaanku tak menentu saat itu dan mengambil keputusan ini. Begitu lama keheningan menyelimuti kami, hanya ada air mata dan tak ada sepatah katapun.
“ Aku Sayang Kamu.” Ucapnya memecahkan suasana.
“ Aku juga sayang kamu.” Jawabku.
“ Aku minta maaf yach, aku udah bersikap kayak gini sama kamu, aku gak tahu kenapa saat itu aku dihinggapi rasa kesal dan kecewa yang begitu besar.” Lanjutku.
“ Aku ngerti koq, maafin aku juga yach.” Katanya.
“ Kamu bener masih sayang aku kan? Kamu mau kan kembali ke sisiku?”. Pintanya.
Aku diam sejenak, aku merasa kalo aku memang masih sayang dia. Sudah lama aku menjalin cinta dengannya.
Tak terasa dengan semua yang telah terjadi ini, suka duka dengan dirinya sudah ku lalui tiga tahun lebih. Dan rasa itu gak mungkin hilang begitu saja.
“ hey . . . “ ucapnya mengagetkanku.
“ eh iyach,, ada apa?” jawabku.
“ koq diem aja si,, kamu belum jawab pertannyaanku yang tadi, gimana?” jelasnya.
“ Mm, jujur aku emang masih sayang kamu. Aku minta maaf yach udah bikin kamu sedih, bikin kamu khawatir sama aku. Aku masih mau koq jadi bidadari kamu, disisi kamu lagi.” Jelasku.
“ bener ???” tanyanya memastikan.
“ iyach,,,” jawabku singkat.
“ makasii banget yach buat semuanya, kamu memang penyemangat hidupku.” Lanjutnya.
Saatku mengusap air mataku dan mencoba tersenyum lagi, tiba-tiba dia memelukku dengan erat, dan membisikkan “ I LOVE YOU” padaku. Aku merasakan kembali hangatnya kasih sayang darinya, indahnya rasa ini. Dan setelah lama membicarakan semuanya, diapun mengajakku pulang. Aku melihat wajahnya penuh kebahagiaan dan matanya berbinar-binar. Akupun merasakan hal yang sama dengannya. Saat itu, aku tahu, apapun yang terjadi antara aku dan dia, aku pergi sejauh apapun, dia akan selalu mencariku.
Hari yang begitu indah dalam hidup ini. Sejak itu, hubungan kamipun jadi lebih baik, banyak instropeksi yang kami lakukan. Detik demi detik yang terus mengiringi langkahku, membuatku menyadari bahwa kita bisa bahagia karena cinta, tapi kita juga bisa sakit karenanya. Saat ini, kebahagiaanlah yang menemaniku dan aku gak mau ini hilang dari hidupku. Sampai aku merasa kebahagiaan ini semakin mendalam terasa dalam hidupku saat dia mengatakan sesuatu hal yang amad membahagiakan.
“ Sayang, kita udah tiga tahun lebih ya, banyak banget hal yang udah kita lalui sama-sama, dari yang seneng, bahagia, sedih, marah, kesel, bahkan benci dan air matapun. Suka dan dukanya, semua udah kita lewatin selama ini.” Jelasnya.
“ Banyak kerikil-kerikil yang mengganggu hubungan ini. Tapi aku cuma mau bisa bikin kamu terus bahagia dan bisa terus jagain kamu.” Lanjutnya.
“ Iyach sayang, makasi banget yach buat semuanya.” Jawabku.
“ Aku mau lebih serius lagi sama kamu. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku selamanya. Kamu mau kan jadi istriku?” pintanya.
Hatiku benar-benar bahagia mendengarnya.
“ Ak . . Aku . . Aku . .” jawabku terbata.
“ Kamu jangan becandain aku lagi ya sayang, kayak waktu aku minta kamu jadi pacarku.” ucapnya sedikit menggodaku.
“ hHe,, gak koq sayang. Iyach,, aku mau koq jadi pendamping hidup kamu selamanya. Aku mau jadi istri kamu.” Jawabku.
“ Sayaaang, makasii banget yach.” Ucapnya dengan wajah yang bahagia.
Hari itu, dia melamarku. Dan setelah semuanya dipersiapkan, akhirnya perjalanan cintaku dengannya berakhir bahagia di pelaminan.
Cinta . . . apapun bentuknya, penghargaan terhadap sebuah cinta dan kasih sayang yang tulus, merupakan sebuah pelajaran hidup yang membawamu satu langkah ke depan. Membawamu pada kebahagiaan jika kamu bisa dengan tulus menjaga cintamu, selamanya . . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ja?????????
BalasHapusini ceritanya beneran apa ditambah khayalan??
hehehehhehe
iiolanda,
BalasHapusyah kalo yang sampe 1 taunan si beneran yol, tapi kalo yang sampe nikah pan belom sampe,, ditanyakan ke dewi aja silahkan,hehe..
n_n